Maaf. Harusnya ini tidak terjadi lagi. Harusnya ini tidak
perlu terjadi berkali-kali. Harusnya ini tidak perlu terjadi berulang-ulang.
Maaf. Maaf. Maaf.
Saat aku memulainya lagi, aku kira semua akan berjalan
baik-baik saja, hingga akhir nanti. Aku kira ini kali terakhirnya aku ‘mencoba’
dan mulai serius untuk memulai bersamamu. Aku kira tak akan ada lagi ragu yang
pernah ada dulu itu. Aku kira ini sungguhan dan bukan sementara lagi. Aku kira
aku telah berhasil, menumbuhkan rasa yang sama seperti yang kau punya. Aku kira
tak akan ada lagi alasanku untuk kembali melangkah mundur. Aku kira...
Tapi, aku salah.
Saat kau harus memulai sesuatu dari nol, itu tidak akan
mudah. Saat kau harus menumbuhkan sesuatu yang asing bagimu, itu tidak mudah.
Saat kau harus menanam benih yang bahkan tak pernah kau kenal awalnya, itu juga
tidak mudah. Saat kau harus membangun sesuatu yang bahkan tak pernah kau lirik
sebelumnya, itu sulit. Akan ada saja hal yang meruntuhkan segalanya. Akan ada
saja hal yang mendorongmu terjatuh. Akan ada saja hal yang melumpuhkan semuanya
dan menarikmu mundur ke belakang. Itu semua terjadi, jika apa yang kau lakukan
tidak datang dari hatimu yang terdalam. Itu semua terjadi, jika pada dasarnya
kau memang tidak pernah menyukai apa yang kau lakukan tersebut. Dan saat itu
semua terjadi, kau tidak boleh memaksakan dirimu. Kau tidak boleh menyiksa
batinmu dengan berpura-pura menyukainya dan menjalaninya dengan keterpaksaan. Kau tak perlu ‘berusaha’ terlalu keras karena
kau tau hasilnya tidak akan tulus. Tidak hanya orang lain yang kau rugikan,
tapi juga hatimu. Itu lebih dari jahat. Bukankah berkali-kali sudah kau
katakan, mendengarkan kata hati dan tidak membohonginya adalah hal terbaik yang
harus kau ambil ketika berada di antara pilihan yang sulit ? Iya kan, Ta ?
Iya.
Hanya ingin kau tau. Setiap kali aku mencoba dan merasa
gagal, aku tidak pernah bisa tenang. Setiap kali aku merasa salahku telah tanpa
sengaja permainkanmu, aku merasa amat berdosa. Berapa malam aku lewati sebelum
tidur dengan menangis di atas bantal, hanya karena merasa salah padamu dan tak
mengerti apa yang harus aku lakukan jika sudah sejauh ini. Berapa banyak waktu
kulewatkan untuk tanpa tersadar merenung, memikirkanmu, memikirkan kita,
memikirkan apa yang terjadi, dan apa yang harus kulakukan. Kau tau ? Aku juga
memikirkannya.
Percayalah, aku bukan yang terbaik. Aku bukan yang kau
butuhkan. Aku hanya seorang yang jahat dan tak patut kau kejar. Dia yang
terbaik untukmu, tentu tidak akan membuatmu menunggu. Tentu tidak akan
membuatmu merasa harus mengejar. Tentu akan dengan mudah dapat membalas
besarnya cintamu tepat dari dalam hatinya yang tulus. Tentu tak perlu ‘belajar’
bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu. Tentu dia tau bagaimana cara
membahagiakanmu, bukan sibuk mencari cara bagaimana agar rasa di hatinya tetap
mekar untukmu. Dia yang terbaik. Bukan aku. Yang jahat.
Percayalah. Akan ada
seseorang yang setara cintanya dengan cintamu. Sehingga tak ada yang perlu mendaki
atau menurun, untuk mengimbangi. Dia itu cinta sejatimu.
Terima kasih. Sekali lagi kukatakan, kau tetap anugerah.
Dicintaimu adalah indah. Akan menjadi bagian indah dalam hidupku, menempati
tempatnya tersendiri di hatiku, dan tidak akan tergantikan tempatnya. Terima
kasih untuk tulusmu. Untuk tidak pernah berhenti dan tetap ada. Untuk selalu
bersabar, menghadapiku yang tak menentu. Untuk besarnya rasa yang mungkin tak
akan sanggup kuimbangi. Aku selalu berdoa untukmu...
Maaf. Maaf. Maaf. Aku jahat. Seharusnya dari awal aku tau,
aku tak pernah bisa. Seharusnya dari awal aku tau, hal ini akan terjadi lagi.
Seharusnya aku tidak perlu mencoba lagi karena aku tau hasilnya akan sama.
Maaf. Aku benar-benar tidak tau akan seperti ini, lagi. Maaf.
Seorang juara sepertimu, pasti akan bertemu dengan seorang
yang juara juga. Juara cintanya. Juaranya tulusnya. Juara pengorbanannya. Tidak seperti aku...
Biarlah takdir yang menentukan. Biarlah alam yang mengatur.
Jika kita dipersatukan suatu saat nanti, biarkan itu menjadi hadiah yang indah
untuk masing-masing dari kita...
Tapi saat ini...
Jika aku berkata, aku
sudah mencoba dan ternyata tetap tidak bisa. Masihkah bisa kau mengerti ?
Maaf. Tapi ini sungguh terjadi. Lagi.
Diamku bukan berarti tak memikirkan. Angkuhku bukan berarti
tak peduli. Aku hanya merasa tak tau
diri, malu pada diri sendiri. Aku hanya tak dapat mengambil keputusan. Karena
itu, setelah ini, setelah kau baca tulisanku ini, kuserahkan padamu...
Bijaksanalah, untuk dirimu sendiri.
Marahlah jika kau ingin
marah. Aku pantas menerimanya.
Sekali lagi, maaf.
Terima kasih.
24 Oktober 2013 21:51
Aku menangis ketika menulis ini. Entahlah :”)))
No comments:
Post a Comment