Tuesday, March 11, 2014

Empty.

When there's no one beside you.
When there's no one in your thought.
When there's no one that you waiting for.
When there's no one that you missing all day long..


Hehe. Jangan sedih gitu ah bacanya, gue aja biasa aja. Tapi, tulisan di atas itu bener. Gue lagi gak mikirin siapa-siapa. Lagi gak ada siapa-siapa di sisi gue. Lagi gak ada siapa-siapa yang gue tunggu ataupun kangenin. Gak ada siapa-siapa yang ngisi hari-hari gue akhir-akhir ini. Kosong aja. Gak enak. Bener deh. Ternyata menyimpan satu nama di hati lu itu penting!

Wednesday, March 5, 2014

I'm 21!

Hari ini. 5 Maret 2014.
21 tahun yang lalu, jam segini, mamah lagi nimang-nimang anak pertamanya kali ya. Anak pertamanya yang harus dia perjuangkan selama 7 jam di ruang persalinan. Anak pertamanya yang mungkin dari awal lahir udah nyusahin mamah banget, tapi antara hidup dan mati mamah pertahanin. Anak pertamanya yang sekarang udah besar ini belum bisa jadi apa-apa di umurnya yang ke 21..
Well, thank you, mom, you are my hero. You are more than my hero. You are my everything..

Alhamdulillah sampai juga di 21. Alhamdulillah sampai juga jadi dewasa. Beberapa mimpi masih menunggu buat direalisasikan, semoga tahun ini tercapai. Beberapa hal masih mengantri untuk diwujudkan, semoga tahun ini tergapai. Ingetin gue ya, kalo gue masih kaya anak kecil, ingetin gue sekarang udah 21. Ingetin gue ya, kalo gue masih gak tau diri, suruh cek aja KTP. Haha.


Friday, October 25, 2013

Quote #6

“Jangan cintai seseorang yang berlampu kuning. Karena sekalipun dia akan menjadi hijau, suatu saat dia akan kembali kuning, atau bahkan menjadi merah.”


“Saat kau sudah berusaha terlalu keras, berkali-kali, namun hasilnya tetap juga sama. Mungkin, berhenti mencoba dan belajar merelakan adalah hal yang paling bijaksana. Berhentilah bersikap bodoh, seperti menyakiti dirimu sendiri.”

Sesuatu Terjadi Lagi

Maaf. Harusnya ini tidak terjadi lagi. Harusnya ini tidak perlu terjadi berkali-kali. Harusnya ini tidak perlu terjadi berulang-ulang. Maaf. Maaf. Maaf.

Saat aku memulainya lagi, aku kira semua akan berjalan baik-baik saja, hingga akhir nanti. Aku kira ini kali terakhirnya aku ‘mencoba’ dan mulai serius untuk memulai bersamamu. Aku kira tak akan ada lagi ragu yang pernah ada dulu itu. Aku kira ini sungguhan dan bukan sementara lagi. Aku kira aku telah berhasil, menumbuhkan rasa yang sama seperti yang kau punya. Aku kira tak akan ada lagi alasanku untuk kembali melangkah mundur. Aku kira...

Tapi, aku salah.